Potret sebuah keluarga muslim Indonesia di Jerman

Aduh..aku gak tau apa sebenarnya boleh nyeritain hal ini ato enggak, soalnya belum minta izin sama orangnya langsung, aku berdoa mudah2an orang yang aku ceritain ini gak sampe nemu blog aku yah dan tau aku ceritain mereka heheh..tapi gak papa kali yah kan aku gak nyeritain keburukan orang  *mengexcuse diri sendiri*

Di Bremen-jerman ini papa raihan ngekos disebuah rumah keluarga milik WNI sebut saja Bapak “G” usianya kurang lebih 40 tahun.. Beliau ini sudah lama menetap di bremen diatas 10 tahun kalo gak salah, saat ini Beliau kerja di sebuah perusahaan airbus milik pemerintahan jerman, dengan penghasilan diatas rata2 bisa dikatakan beliau termasuk kalangan ekskutif di bremen..Dengan tingkat kemapanan ini gak heran beliau bisa memiliki rumah di Jerman..punya 2 rumah bahkan.(letaknya berdampingan)

Rumah pertama ditempati oleh beliau & istri berserta 7 orang anaknya yang masih kecil2 (yang tertua baru saja selesai SMU dan sekarang lagi sekolah agama di Damaskus sedangkan si bungsu berumur 4 tahun) plus 3 orang mahasiswi, sedangkan rumah kedua khusus untuk mahasiswa (termasuk papa raihan).

Yang mau aku ceritain disini adalah rasa kagum yang luar biasa terhadap keluarga ini dalam hal ketaatan mereka beribadah..  Ada 1 ruangan khusus dirumah kedua (kosan cowok) yang difungsikan sebagai mushala…dan Mushalla itu benar2 hidup..tidak ada 1 waktu sholat fardhu-pun yang dilewatkan tanpa sholat berjamaah..Subhanallah..

Waktu pertama kali ikut sholat berjamaah di musholla itu rasanya bener2 takjub suasananya bener2 damai.. ..di musholla itu tidak ada sajadah2 cantik berbulu lembut yang ada hanya hamparan kain putih bersih yang sangat sederhana….Musholla itu bukan hanya khusus untuk keluarga dan anak kos tapi terbuka untuk siapa saja..Seorang warga Keturunan Nigeria bernama Musa rutin sholat berjamaah di situ..ada seorang nenek (WNI juga) juga ikut sholat disana..tadinya saya pikir itu mertua Pak G..ternyata nenek itu tetangga sebelah..Sholatnya sangat khusu’ meski karena keterbatasan fisiknya terpaksa dilakukan diatas kursi..

Selama disini aku gak perlu bertanya2 kapan waktu sholat tiba. Karena selain ada reminder di laptop papa raihan..ada juga tanda2 khusus yaitu langkah kaki anak2 pak G yang berlarian memasuki musholla..(letak musholla berdekatan dengan kamar kami) plus tak lupa teriakan si bungsu mengucapkan kata ayo sholat..sholat..dengan dialek khas jerman yang terasa lucu di pendengarannku

Suatu waktu aku mendapati seorang anak putrinya (saya belum hafal nama2 anak mereka) yang duduk di sudut mushola tapi tidak ikut melaksanakan sholat..ketika saya bertanya kenapa tidak sholat,,dia Cuma tersenyum malu..Ooh aku mengerti maksudnya. gadis kecil itu sedang datang bulan..hanya saja setiap waktu sholat dia tetap ingin hadir di mushola itu…Bukan itu saja..si Bungsu berumur 4 tahun..setiap subuh hadir di musholla (membayangkan bagaimana cara  membangunkan anak usia 4 tahun untuk bangun sholat subuh!!!).

Bukan hal yang mudah untuk tetap istiqamah di negara dimana kaum muslim adalah minoritas..tapi Keluarga ini bisa membuktikan bahwa dengan kesungguhan hati, insya allah semua bisa dilaksanakan..Inilah sebenarnya jihad,.perjuangan untuk tetap menegakkan asma allah dibumi manapun kita berada..Setiap minggu rutin dilakukan pengajian & diskusi agama di rumah ini..begitu pula waktu ramadhan, papa raihan bilang setiap malam mereka selalu shalat tarawih berjamaah

Dalam hal bersosialisasi, keluarga ini juga sangat baik..menurut papa raihan..keluarga ini adalah tempat “shoulder to cry on” bagi para mahasiswa  perantauan..mereka sangat ringan tangan.. ada pelajar yang baru datang tapi belum dapat tinggal..mereka siap menampung, ada yang sakit ato kesusahan mereka menolong, bahkan. saya bisa datang ke jerman juga atas bantuan mereka (invitation letter atas permohonan Pak G mengingat waktu itu visa Papa raihan udah mau abis jadi gak bisa buat  invitation). Terima kasih banyak yah pak..

Terus terang saya bersyukur papa raihan bisa tinggal disini, walaupun hanya menempati kamar kecil dan ada beberapa keterbatasan..Tapi saya merasa banyak pelajaran yang bisa diambil di sini (pepatah bilang..bergaul dengan penjual parfum..jadi ketularan wangi)..Insya Allah semoga kami bisa belajar banyak dari keluarga ini utamanya dalam hal pendidikan agama bagi anak2..(Bisa membesarkan 7 orang anak dengan kecintaan terhadap Islam yang amat kuat.. adalah sangat mengagumkan buat saya)

Suatu saat kami baru saja pulang dari berbelanja di swalayan..ketika melewati rumah pak G..tiba2 disatu kamar, kain hordennya tersingkap..begitu menegok kedalam saya melihat Hamima.anak Pak G,.si gadis kecil berusia 6 tahun sedang melaksanakan sholat sendirian dikamarnya..Subhanallah….

“Ya Allah semoga raihan kelak tumbuh menjadi Anak yang sholeh, taat kepada orang tuanya..dan menjadi generasi penerus Islam yang Tangguh..Amin”

PS : buat abi & ummi terima kasih banyak yah unutk semuanya dan mohon maaf banget gak ijin2 dulu kalo mau cerita..^_^

One thought on “Potret sebuah keluarga muslim Indonesia di Jerman

  1. salam kenal mba…nice blog…..!!!

    jadi penasaran dan pengen kenal dengan keluarga baik dan soleh itu mba…..
    subhanallah….:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s